Minggu, 30 Januari 2011

bermain peran:metode alternatif atasi rasa takut

Selain bias jadi obat mujarab mengatasi rasa takut, bermain peran (role paly) juga merangsang imajinasi dan kemampuan verbal si prasekolah.

“Ibuuuu…ada ayam, aku takut!” jerit Susan, seorang bocah prasekolah sambil berlari kencang dan mencoba berlindung di belakang ibunya saat melihat hewan peliharaan tetangganya melintas di depannya.
“Ah..masa sudah gede takut sama ayam. Kamu kan, suka makan ayam?” goda si ibu.

Memang sih, metode semacam ini amat tokcer untuk “memaksa” anak mau menuruti keinginan orang tuanya. Alhasil anak selalu takut jika melihat bahkan mendengar suara sosok siapa pun atau binatang yang selama ini dianggap menakutkan si kecil tersebut sebetulnya sama sekali tak berbahaya. “Itulah akibat yang mestinya dicermati kalau orang tua hanya mencari jalan pintas dengan cara menakut-nakuti anak,” tegas psikolog dari biro konsultan Karim.

1. Berimajinasi lewat Role play

Bermain peran, jelas psikolog yang akrab disapa Tika, menjadi satu satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi rasa takut anak. Dalam permainan ini si anak memerankan sosok yang selama ini dianggap menakutkannya. Ketakutan yang bercokol dalam diri si kecil dimanifestasikan melalui cara ini, hingga diharapkan dia rak memiliki rasa takut lagi dikemudian hari.

Bermain peran juga dapat membuat anak pandai berimajinasi karena memerankan sosok yang bukan dirinya. Misalnya, dia mengkhayalkan dirinya menjadi dokter yang menurutnya termasuk sosok menyeramkan. Melalui cara ini, anak belajar berempati pada posisi orang lain. Selain belajar bereksplorasi dan berimajinasi sertameningkatkan kemampuan verbal, dengan bermain peran anak juga diharapkan dapat mengatasi rasa takut dalam dirinya.

Berikut ini rasa takut yang banyak dialami anak dan cara mgatasinya dengan cara bermain peran :

• Takut dokter

Anak biasanya takut karena pengalamannya pernah disuntik yang ternyata rasa cukup menyakitkan bagi mereka. Maka tak heran, baru memasuki ruangan dokter atau melihat peralatan sampai mencium “bau” obatnya saja, anak sudah menjerit-jerit atau menangis histeris apalagi kalau saat diperiks dan disuntik.

Penyebab: selain karena punya pengalaman traumatic, bias jadi ia dulu kenyang ditakut-takuti bakal disuntik dan sebagainya oleh orang tuanya.

• Cara mengatasinya:

Anak memainkan peran sebagai dokter, sedangkan orang tua atau kakak/adik berpura-pura menjadi passiennya. Gunakan mainan berbentuk alat-alat yang bias digunakan dokter, sperti stetoskop. Biarkan anak bereksplorasi dan berimajinasi memerankan dokter yang sedang memreiksa pasien.

Secara tak langsung, anak menjadi tahu bagaimana cara dokter menghadapi pasien-pasien ysng takut ndiperiksa. Semisal dengan cara menengkan “jangan takut ya, bu-pak. Saya Cuma periksa sebentar aja kok. Kalaupun harus dusuntik,enggak sakit, kok. Kan, supaya lekas sembuh.” Dengan berpura-pura memberikan nasehat seperti itu bukan tidak mungkin sosok dokter justru menarik minatnya dan malah bercita-cita menjadi dokter.

• Takut pada orang yang baru dikenal

Tak jarang anak-anak tampak takut pada orang yang pertama kali ditemuinya. Dia akan berusaha menjaga jarak, apalagi orang yang menghampirinya itu berwajah kurang “bersahabat”. Yang juga kerap terjadi, orang itu terkesan berlebih saat menasehati anaknya untuk tidak terlalu akrab dengan orang yang tidak dikenal. “Awas, kamu hjangan deket-deket sama orang yang enggak kamu kenal. Bias-bisa kamu nanti diculik, lo!”

Memang sih, ada segi positifnya bila orang tua senantiasa wanti-wanti si kecil agar waspada terhadap orang lain atau yang baru dikenalnya. Tapi tentunya bukan dengan cara berlebihan yang menyebabkan si kecil malah selalu ketakutan pada orang lain.

• Cara mengatasinya :

Ajak anak bermain tamu-tamuan. Ikutkan pula teman-temannya. Posisikan dia untuk bergantian memainkan peran sebagai tamu yang berkunjung ke rumah orang lain, atau sebagai nyonya rumah yang kedatangan tamu. Bermain peran untuk mgikis rasa takut pada orang lain juga bias dilakukan dalam berbagai situasi, seperti took, sekolah, dan tempat keramaian lainnya.

• Takut binatang

Adalah hal yang wajar bila takut pada binatang yang baru pertama kali dilihatnya. Apalagi bila hewan itu kelihatannya buas dan menyeramkan. Hanya saja sungguhsayang bila orang tua tak berusaha menjelaskan dan memperkenalkan anak pada binatang-binatang yang ditemuinya tadi. Seperti mengajaknya mengelus-elus bulu kucing atau memberi makanan pada induk ayamm dan anak-anaknya. Sangat tidak bijaksana pula jika orang tua menambah rasa takut pada binatang yang sebenarnya relative tidak membahayakan “Awas, jangan dekat-dekat, nanti kamu dicakar kucing.”

• Cara mengatasinya :

Anak bermain peran sebagai pemandu/pelatih sirkus yang sehari-hari melatih binatang. Ini akan menyadarkan anak bahwa binatang pada dasarnya bias dilatih untuk menurut dan diajak bekerja sama. Cara lain adalah dengan bermain sandiwara di panggung yang menggelar cerita tentang hewan-hewan sebagai sahabat manusia.

• Takut hantu

Banyak tayangan televise yang menyajikan program acara bertajuk cerita hantu tak ayal ikut mempengaruhi kadar rasa takut anak-anak. Ironisnya, tak sedikit orang tua yang menjadikan cerita hantu sebagai “senjata” untuk menakut-nakuti si kecil. Meskipun rasa takut pada hantu bias saja terjadi akibat faktor “ genetic” berupa sikap penakut dari orang tuanya.

• Cara mengatasinya :

Anak bermain peran sebagai hantu yang selalu membantu orang kesuliutan seperti film/buku cerita casper. Atau bias juga berperan sebagai penyihir yang baik hati. Jadi, anak mempersepsikan hantu bukan sebagai sosok yang menakutkan.

• Takut sekolah

Anak yang pertama kali masuk TK awalnya takut beradaptasi dan bersosialisasi dengan guru dan teman-teman barunya. Terlebih bila orang tua juga tak berusaha memperkenalkan si kecil pada temannya.

• Cara mengatasinya :

Sebelum didaftarkan masuk TK, anak diajak bermain sekolah-sekolahan. Anak bermain peran sebagai murid atau guru. Saudara sepupu si kecil atau tetangga yang seusia bias dilibatkan untuk berpura-pura sebagai murid. Sehingga anak tak takut dan tak canggung lagi di hari pertamanya masuk TK.

2. Berkembang jadi fobia

Jika sejak kecil anak selalu takut, sementara tak ada dorongan dari orang tua untuk mengatasi rasa takut tersebut, tidak tertutup kemungkinan ketakutannya bias berkembang menjadi fobia/takut yang berlebihan. “kalau tak diantisipasi, bias menjadi sesuatu yang menghambat segalanya. Kemana-mana takut, hingga jiwanya tak berkembang.” Tutur Tika.

Padahal sebagai orang tua seharusnya tahu bahwa membutuhkan rasa aman dan nyaman. Bila lingkungan malah membuat anak makin mmerasa takut, maka jangan harap bakal tercipta rasa aman dan nyaman. Kelak jika suasana takut terus-menerus “dipelihara”, justru proses bermain dan belajar si anak akan terganggu juga.

Selain karena lingkungan yang tidak mendukung anak untuk Mengatasi rasa takut, ternyata penelitian juga menunjukkan bahwa fobia itu “ditularkan” oleh orang tua, terutama sang ibu. Pasalnya sosok ibu lebih memiliki kedekatan emosional dengan si anak daripada ayah. Contoh konkret, bila ibu takut pada suasana gelap, maka secara otomatis bila kondisi itu muncul, ibu secara spontan akan mencengkeram tangan si kecil. Dengan kata lain bias membuat anak ikut-ikutan takut.

Nah, untuk menghilangkan fobia takut ini dibutuhkan proses dan latihan. Yang patut diperhatikan, ketakutan irasional ini bias menggeneralisasi alias bias berdampak sangat luas dan parah. Misalnya, anak yang takut ayam, jangankan bertemu dengan hewan petelur itu, mendemngar suara ayamm berkotek saja sudah bergidik. Atau contoh lain jika di masa kecil selalu ditakut-takuti buaya, melihat cicak yang memiliki kemiripan dengan buaya sudah mampu membuat takut.

Kasus yang cukup parah adalah seorang anak yang secara tak sengaja menyaksikan kilatan petir di siang hari diiringi suara yang menggelar sehingga membuatnya terkejut bukan kepalang. Apa akibatnya? Dia takut pada suasana siang hari. Anak itu meminta orang tuanya untuk menutup rapat jemdela sekaligus gordennya serta tak boleh ada nyala lampu di rumahnya. Si anak justru senang pada suasana gelap karena dia beranggapan jika gelap gulita taka nada petir. Dampak yang paling parah, sepanjang hari dia terus menutup telinganya meskipun tak ada mendung atau hujan yang rawan muncul petir bersahutan.” Generalisasi bias sangat luas,” papar Tika.

Bgi anak yang takut dokter,perasaan ini dapat tergeneralisasi pada hal-hal lain yang memang masih berhubungan. Umpamanya, melihat orang yang berbaju putih saja dia akan ketakutan. Atau ketika mendengar orang menyebutkan kata “dokter”, ia langsung berdebar-debar meski tak ada sangkut paut dengan dirinya. Tak heran begitu masuk ruang periksa atau bertemu dengan dokter dalam sosok yang nyata, pastilah dia menjerit-jerit dan menangis ketakutan.

3. Peran aktif orang tua

Menurut literature, anak usia prasekolah mulai mengetahui sesuatu atau sosok yang menakutkan dari buku-buku cerita dongeng atau melaui video, film kartun dan tayangan televise lainnya yang bertubi-tubi. Misalnya sajian bertopik kriminalitas atau kisah-kisah bernuansa misteri/hantu.

Kebiasaan menakut-nakuti anak, sudah saatnya ditinggalkan. Mestinya orang tua menyadari efek berkepanjangan yang bias ditimbulkan. Kalaupun anbak susah diatur, tak ada salahnya mencari cara lain yang lebih bijak. Yang pasti, jangan sampai mengusik rasa aman dan nyaman si prasekolah. Orang tua juga seyogyanya menjadi sosok teladan bagi si kecil. Artinya, bila ibu/bapak sendiri adalah seorang yang penakut, maka jangan heran bila sifat ini “ menular” pada anak. Jadi, setakut apa pun, orang tua harus berupaya untuk tampil yakin dan tetap tenang, terutama ketika berada di hadapan anak.

Usahakan lainnya adalah mencoba membangun sikap positif. Misalnya, memberikan penjelasan kepada anak bahwa sosok dokter itu baik hati dan pintar. Alhasil, rasa takut anak terhadap dokter, klinik atau rumah sakit berangsur-angsur bias terkikis bahkan lenyap.

Ada baiknya pula orang tua meluangkan waktu untuk mendengarkan dengan telinga dan hati, apa gerangan yang ditakutkan anak. Tentunya tak sekedar menyimak pembicaraan si kecil, berilah dukungan yang positif dan penjelasan yang memenangkan agar anak dapat mengtasi rasa takut.

sumber http://bundaananda.blogspot.com/2010/05/bermain-peran-metode-alternatif-atasi.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar