Senin, 07 Maret 2011

alasan kenapa angka 13 dianggap bawa sial

Kita kadung gandrung dengan angka-angka, dengan perhitungan. Mau menikah, hampir seluruh anggota keluarga hibuk pilah-pilih hari. Ingin punya nomor ponsel baru, jejarian lekas tangkas bongkar tumpukan kartu SIM di gerai pulsa. Bahkan kadang hati ini tergerak juga untuk mengkalkulasi nama yang kita sandang: Membawa peruntungankah ia, atau justru bikin buntung?

Kita bisa menyebut kecenderungan semacam itu sebagai efek dari numerologi, yang dijabarkan Wikipedia sebagai suatu sistem, tradisi, atau kepercayaan akan adanya ikatan mistis antara angka-angka dengan benda-benda atau makhluk hidup. Para ahli numerologi percaya bahwa segala yang terhampar di bumi dapat diubah ke dalam bentuk angka. Tiap angka mewakili spektrum maha luas yang mencakup hal-hal positif dan membangun serta elemen-elemen negatif yang meluluhlantakkan.

Banyak yang menahbiskan Pythagoras sebagai sang bapak dari numerologi barat, seperti dapat dibaca di buku The Complete Idiot’s Guide to Numerology. Sebuah adagiumnya menegaskan pengakuan itu: “Dunia dibangun di atas kekuatan angka-angka.”

Namun sesungguhnya praktik numerologi telah jauh lebih tua dari umur dari sang bapak. Sebutlah misalnya aksara Ibrani, yang berdasar atas angka-angka. Pun, dalam kebudayaan Yunani, angka-angka tertentu dianggap lebih mulia atau nista dari yang lainnya. 888 dianggap sebagai menyimbolkan pikiran sang Maha. Variasi bahasa Yunani atas Yesus – ‘lesous’ – tegak lurus dengan angka 888. Angka 666 mewakili sang Fana. Perjanjian Baru menyebut 666 sejajar dengan Iblis.

Praktik dari numerologi, yang dianggap sebagai tingkatan terendah, menyentuh aspek magis angka-angka, yang hasilnya kerap dianggap sebagai ramalan. Pythagoras tak menyarankan hal itu. Tapi, masih banyak pihak yang mengaitkan praktik yang menjurus klenik itu dengannya.

Contoh dari praktik serupa dapat terlihat dari kepercayaan yang berkembang di Cina. Dalam tradisi bangsa itu, angka 4 (empat) dianggap membawa kesialan karena secara fonetis bunyinya mirip dengan kata ‘mati’ (bahasa Kanton). Itu yang bikin banyak gedung yang menyundul langit jakarta tak mengimbuhkan satuan 4 di pada lift, hanya jika pemiliknya warga keturunan Tionghoa.

Namun, uniknya, angka 4 dalam bahasa Shanghai bunyinya seturut dengan kata ‘air’, yang dianggap hoki, karena air dianggap punya hubungan dekat dengan uang.

Kiranya, tidak ada yang melebihi popularitas angka 13 dalam hubungannya dengan takhyul. Dunia mesti berterima kasih terhadap film-film produksi Hollywood yang telah menyebarkan kepercayaan masyarakatnya atas angka 13. Dalam kepercayaan itu, segala yang mengungkit angka 13 akan dihindari: Tanggal 13 (terutama Jumat, seperti hari ini), lantai ke 13, meja tamu berjumlah 13, dan seterusnya.

Bahkan, seperti yang diterakan dalam about.com, ada legenda yang beredar yang mengatakan bahwa jika ada 13 orang duduk semeja ketika makan malam, salah satunya akan mati pada tahun itu. Bangsa Turki lebih nekat lagi. Saking sebalnya mereka dengan 13, mereka tega menghilangkan kata untuk angka itu dari kamus.

Jangan tersenyum dulu. Kini saatnya anda menghitung jumlah huruf pada nama anda. Jika jumlahnya 13, anda akan meraih keberuntungan yang dikaruniakan oleh setan. Simaklah nama penjahat kelas kakap dunia ini, yang terdiri atas 13 aksara: Jack the Ripper, Charles Manson, Jeffrey Dahmer, Theodore Bundy, dan Albert De Salvo.

Mereka yang bergidik dengan angka 13 tercatat menderita Triskaidekaphobia. Dan, mereka yang cemas dengan hari Jumat yang bertanggal 13 disebut menderita paraskevidekatriaphobia. Konon, ketakutan yang mereka alami itu disebabkan oleh hal-hal berikut, seperti dikutip dari situs Associated Content:

- Bangsa Ibrani kuno menganggap 13 sebagai angka sial sebab huruf ketiga belas dalam alfabet Ibrani merupakan angka ‘M’, huruf pertama kata ‘mavet’, yang artinya mati.

- Last Supper yang termasyhur itu dihadiri oleh 13 orang. Judas adalah yang pertama bangkit, pun yang pertama wafat.

- Para Ksatria Templar ditangkap dan dieksekusi pada tanggal 13 Oktober 1307.

- Di tengah masyarakat yang patriarkal, 13 dianggap sebagai angka feminin dan karena itu dianggap sebagai angka sial.

sumber http://lintasberitaonline.blogspot.com/2010/10/alasan-mengapa-angka-13-dianggap-bawa.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar