Selasa, 07 Juni 2011

muhhammad-para pengeja tuhan

“Paman, tolong aku! Tolong aku, Paman!”
Suara Xerxes selalu mengiang di telinga Kashva setiap terbangun dari tidurnya. Anak dari perempuan pujaan yang dititipkan kepadanya ketika terjadi penyerangan oleh pasukan Raja Khosrou itu, kini terpisah darinya.

Minggu demi minggu dilalui Kashva di Tibet dengan mendaki 13 gunung suci bersama Biksu Tashidelek. Ia pun tenggelam dalam lautan peziarah di tempat berkumpulnya segala doa itu, demi satu tujuan. Menemukan kembali Xerxes!

Peristiwa hilangnya Xerxes membuat pikiran Kashva hanya tertuju untuk menemukan cara agar mereka dapat bertemu kembali. Kashva bahkan hampir lupa dengan tujuan utama dari pelariannya kali ini. Sebuah perjalanan panjang untuk mencari Astvat-ereta, Sang Al-Amin, guna menyucikan ajaran Zardusht, sebelum akhirnya Tashidelek memberinya sutra-sutra Buddha.

Kehilangan yang hampir membuat rasa putus asa juga dirasakan oleh ‘Umar bin Khaththab. Ia harus menggantikan Abu Bakar yang telah meninggal untuk berangkat ke medan jihad di Irak dan Syam. Rasa ragu dan takut sempat menghampirinya. ‘Umar merasa tidak mampu menjadi pemimpin bagi banyak umat, sebab Nabi Muhammad dan Abu Bakar tidak bisa dijumpainya lagi untuk meminta bimbingan.

Perjalanan pencarian Kashva dan perjuangan para mujahid pada zaman pascakenabian akan membawa kita kembali ke Jazirah Arab ribuan tahun lalu untuk merasakan hidup bersama Muhammad, Sang Manusia Pilihan. Akankah suasana khusyuk di Tibet yang membuat Kashva belajar banyak makna kehidupan dapat memberikan jawaban mengenai Al-Amin yang sedang dicarinya?

TENTANG PENULIS

Tasaro GK adalah anggota Kelompok Tani Mekar Jaya, Desa Cinanjung, Sumedang. Berkebun pada sebagian waktunya dan menulis pada sebagian waktunya yang lain. Lahir di Gunung Kidul, Tasaro kini berdiam di lereng Gunung Geulis, Sumedang. Novel Muhammad Saw.: Para Pengeja Hujan adalah bagian dari serangkaian pencarian spiritual yang masih dia lakukan. Saat ini, Tasaro hidup bersama istri dan anak laki-lakinya dalam keseharian menulis dan bercocok tanam. Sesekali berkumpul di saung bambu sambil melihat cabai yang mulai memerah dan lanskap Kota Bandung di kejauhan.


sumber;bentang pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar