Senin, 23 Agustus 2010

pendengar setia

“Sekarang Kakak tanya sama kamu, Tih. Jawab yang jujur, mengapa kamu masuk kerja di perusahaan ini?”

Aku diam, mengepalkan tanganku. Kecurigaan dapat kulihat jelas dari bola matanya.

“Jawab, Tih.”

Aku tetap bungkam. Kali ini bukan wajah Kak Tio yang kutatap tapi dadanya . Jantung, tempat hatinya berada.

“Baiklah, jika kamu tidak mau menjawab pertanyaan Kakak, akan Kakak cari sendiri jawabnya.”

Namaku Ratih, aku bekerja di perusahaan keluarga. Sebut saja Perusahaan Kelihatan Maju. Jabatanku sekarang adalah staf keuangan. Staf? Ya. Hanya sebagai staf. Tapi apalah arti sebuah jabatan untukku, juga bagi mereka yang tahu siapa aku.

Sudah lama aku bekerja di perusahaan ini. Dimulai sejak aku duduk di sekolah menengah tingkat pertama. Jabatanku adalah sekretaris. Begitulah kata atasanku, yang tak lain adalah papaku. Mungkin jabatan itu diberikan karena aku sering menemaninya pergi ke bank untuk melakukan transaksi bisnis. Atau mungkin juga diberikannya jabatan itu untuk menyenangkan hatiku. Jika hati seseorang senang, tentulah dengan senang hati pula ia akan menolong. Teori ini berlaku untukku. Aku bangga dan tak anyar aku memamerkan jabatanku kepada teman-temanku. Aku dan atasanku seringkali ke bank untuk mengambil uang dengan jumlah besar. Pada suatu ketika kami di bank, atasanku menerima panggilan rapat mendadak. Selesai ia menandatangani cek, ia memberitahukan kepada teller agar uang tersebut diserahkan saja kepadaku.

“Pak, jangan anaknya yang bawa uang, nanti hilang,” kata teller.

“Saya percaya kepada anak saya,” jawabnya, lalu beranjak pergi.

Aku dapat melihat dengan jelas raut ketidaksukaan di wajah teller itu. Mungkin dia tidak pernah membawa uang sebanyak yang akan kubawa, pikirku geli. Bukannya sombong, aku sudah biasa membawa uang sebanyak itu. Dan syukurlah, Tuhan selalu melindungi aku.

Kepindahanku ke Jakarta tidak menghalangiku membantu perusahaan. Kebetulan kantor pusat kami berada di Jakarta, yang ditangani oleh Kak Yanti, kakakku yang pertama. Aku membantu selepas selesai kuliah. Pekerjaanku masih sama, dari bank ke bank, tetapi aku tidak mendapatkan jabatan. Yang dapat kubanggakan di sini adalah sisi kemanusiaanku, jiwa penolongku.

Dua tahun kemudian, selepas pulang dari Amerika, Kak Tio, abangku ikut bergabung di perusahaan. Oleh Kak Tio, aku disarankan untuk fokus kepada kuliahku, juga pada masa mudaku. Aku ingat perkataannya, “Ti, kamu masih muda, kamu tidak boleh menghabiskan waktumu hanya untuk kuliah dan bekerja. Ingat Ti, kita bukan keluarga yang tidak mampu. Lebih baik kamu menikmati kuliah kamu, dan hubunganmu bersama dengan teman-temanmu”.

Aku menolaknya. Terjadilah pertengkaran antara Kak Yanti dan Kak Tio. Kak Tio menuduh Kak Yanti telah memaksakan kehendak kepadaku. Ayahku juga ikut bicara.

“Ti, Papa saja ingin bisa kuliah lagi. Kalau ada yang mau biayai Papa sekolah, Papa mau.”

“Apa maksud Papa bicara seperti itu?” tanyaku tak mengerti.

“Papa ingin kamu fokus pada kuliahmu. Tidak usah lagi membantu kantor, karena sudah ada Kak Tio. Untuk uang kuliah dan jajanmu, kamu boleh pilih, ingin dibayar oleh kantor atau Papa?” Dengan lemas aku menjawab “dibayar oleh papa”. Dalam hal ini, hanya mamaku yang tidak angkat bicara.

Aku sedih, andai mereka tahu, bahwa kebanggaanku terletak di sana, yaitu ketika aku bisa membantu usaha keluargaku. Aku keluar dari perusahaan Kelihatan Maju.

Ketika lulus kuliah, aku mencoba melamar di beberapa perusahaan. Aku belum beruntung, sudah tiga bulan melamar tapi belum ada satu pun pekerjaan yang kudapat. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Kak Yanti dan Mama. Mereka mengajakku kembali membantu usaha keluarga.

“Ayolah Ti, bantu Kakak. Tidak ada orang yang Kakak bisa percaya untuk memegang keuangan, dan Mama tidak sanggup jika sendirian.”

Jiwa pahlawanku bangkit, namun ada sedikit rasa malu menghinggapiku. Apa kata orang jika aku masuk perusahaan keluarga, karena aku tidak berhasil mendapatkan pekerjaan.

“Tapi aku ingin mencoba bekerja di tempat lain, Kak,” akuku.

“Bodoh kamu Ti, untuk apa kamu memikirkan perusahaan lain jika kamu punya perusahaan sendiri? Perusahaan membutuhkanmu.” Mama ikut bicara

“Berikan aku waktu untuk berpikir, Ma, Kak.”

Setiap hari mereka membicarakan harapan mereka, memancing emosiku. Aku menyerah. Kuputuskan untuk membantu perusahaan keluarga.

Saat ini, aku berada di dalam rapat keluarga. Ada Papa, Mama, Kak Yanti, dan Kak Tio. Rupanya Kak Tio tidak puas dengan jawabanku kemarin.

“Kita ada disini, untuk membicarakan tentang Ratih,” Kak Tio memulai. “Aku tidak setuju jika Ratih bekerja di perusahaan ini,” tambahnya.

Aku diam, menahan emosiku.

“Pertama, Ratih tidak berpengalaman. Kedua, perusahaan ini tidak membutuhkan lulusan psikologi. Kakak bisa dengan mudahnya mencari pengganti posisimu di perusahaan ini dan membayar upah mereka lebih murah. Jika, Kak Yanti merasa satu orang kurang untuk menggantikan Ratih, Tio bisa menambahkannya,” katanya.

Aku dapat melihat kesombongan di matanya. Juga kebodohan di otaknya.

“Mengapa kamu ingin bekerja di perusahaan ini, Tih?” tanya Kak Tio.

Aku dapat melihat kecurigaan di matanya.

“Apa kamu takut tidak akan mendapatkan uang Papa suatu hari nanti,” lanjutnya.

Ah, kali ini pandangan mataku tembus sampai ke jantungnya. Papaku angkat bicara

“Jika seperti itu kekuatiranmu, jangan kuatir Ti. Sahammu aman. Papa percaya bahwa Yanti dan Tio tidak akan mengambil bagianmu.”

Kutatap nanar ke arahnya. Airmata yang tak dapat kutahan mengalir dengan derasnya. Aku berlari keluar dari ruang rapat, ke arah ruanganku. Mengambil kunci mobil, dan bergegas menuju mobilku. Pergi dari sini, kalimat itu yang terpikir olehku.

Aku memarkirkan mobil di depan rumah. Lalu masuk ke kamarku. Menangis sepuas-puasnya. Suara dering SMS membuatku terjaga dari tidur. Kutatap jam wekerku. Pukul 2 pagi.

Aku beranjak dari tempat tidur, mencari makanan yang dapat kumakan. Dan kembali ke kamarku. Di pintu kamarku aku menemukan secarik kertas. Rapat akan dilanjutkan besok. Kak Yanti. Dengan geram, aku melepaskan kertas itu dari pintu. Aku tidak akan datang ke kantor besok, tekadku. Rupanya mereka membaca pikiranku. Rapat pun diselenggarakan di rumah.

“Suka atau tidak, masalahmu harus diputuskan,” jelas Kak Tio. Aku tertawa sinis.

“Yang punya masalah itu aku atau Kak Tio,” pikirku. Hanya saja tak mampu kukeluarkan kata-kata itu.

“Bagaimana Ti?” tanya papaku.

“Apanya yang gimana?” tanyaku pelan.

“Rencanamu untuk masa depanmu,” jelasnya.

“Ingat Ti, kamu sudah tidak diterima di perusahaan Kelihatan Maju,” Kak Tio mengingatkanku.

Aku diam. Mereka pun diam. Sepuluh menit kami diam.

“Rapat kita lanjutkan besok,” kata Papa bangkit, diikuti Kak Tio, Kak Yanti, kemudian Mama.

***

Aku sedang menikmati alunan musik, ketika pintu kamarku diketuk.

“Masuk,” teriakku.

Mama dan Kak Yanti mendekatiku.

“Jangan takut dengan Tio, Ti. Bukan dia yang punya perusahaan,” Mama mengingatkanku.

“Iya, Ti. Biarkan saja dia ngomong gak keruan. Jangan diambil hati. Nanti juga dia capek sendiri,” timpal Kak Yanti.

“Yang penting kamu bertahan. Kamu hanya perlu bilang ke Papa kalau kamu tertarik belajar dunia usaha dan belum terpikir ingin menjadi seorang psikolog. Kakak yakin papa akan mengerti.”

***

Pagi–pagi aku dibangunkan oleh suara ketukan. Kubuka pintu.

“Rapat dimulai pagi ini. Buruan mandi,” perintah Kak Tio.

Kunyalakan shower. Aku diam di bawahnya. Memejamkan mata. Berharap air dapat menentramkan jiwaku. Berharap kegundahanku teratasi.

Aku duduk di kursi yang sudah mereka sediakan.

“Kakak ingin jawabanmu hari ini,” tegas Kak Tio.

“Aku tidak suka menjadi seorang psikolog,” akuku.

“Lantas untuk apa kamu kuliah mengambil jurusan psikolog?” selidik Kak Tio.

“Aku ingin membuat Papa bangga. Dengan menjadi seperti keinginannya. Akan tetapi di tengah perjalanan, aku merasa sudah tidak kuat lagi melanjutkannya. Gelar yang kuraih itu sudah cukup kupersembahkan untuk Papa.”

“Salahmu sendiri,“ jawab papaku, lanjutnya, “kamu sudah besar, seharusnya bisa berpikir dengan baik.”

Aku mengambil nafas panjang sebelum berkata, “Aku ingin belajar dunia usaha, makanya aku bergabung di perusahaan Papa,” jawabku.

“Kamu sekarang hanya sebagai staf, jika itu maumu, tidak perlu Papa sekolahkan kamu tinggi-tinggi. Cukup sampai SD.”

Deg. Hatiku terkoyak. Kupejamkan mataku. Semoga air mataku tak menetes, doaku kepada Tuhan.

Kupandangi wajah Mama dan Kak Yanti, meminta pertanggungjawaban mereka. Namun yang kudapat, mimik wajah tak berdosa.

Sudah lima tahun berlalu sejak saat itu. Dikarenakan tak ada jawaban dariku, Papa dan Kak Tio yang memberi keputusan. Aku dikeluarkan dari perusahaan Kelihatan Maju. Seharian aku menangis, lalu tercetuslah ide gila, melarikan diri. Aku melakukannya. Kutinggalkan secarik kertas di tempat tidurku. Aku tidak menginginkan hartamu, Pa. Ratih.

Saat ini aku berada di Malang, bekerjasama dengan temanku, membuka usaha catering. Kabar terakhir yang kudengar, papaku meninggal setahun yang lalu. Terkena serangan jantung, di saat bertengkar mulut dengan Kak Tio. Seminggu kemudian, Kak Tio dilarikan ke rumah sakit jiwa. Dan jika kalian bertanya bagaimana nasib perusahaan kami, jawabnya Tuhan masih memberkati perusahaan kami. Aku tahu perusahaan kami mempunyai banyak hutang. Dan jika aset kami dilelang, masih tidak cukup untuk membayar hutang. Apalah jadinya, Mama dan Kak Yanti, jika hal itu terjadi, karena rumah tempat mereka tinggal, juga ikut menjadi jaminan di bank. Semoga Mama dan Kak Yanti bisa mengatasi masalah ini, karena harapan perusahaan kami ada di pundak mereka. Aku hanyalah seorang pendengar setia atas apa yang terjadi, melalui Susi, pembantu setiaku, yang masih tinggal bersama Mama dan Kak Yanti.

by;novita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar